A.      FILSAFAT

Filsafat adalah salah satu kata yang sering kita dengar dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata ini memiliki akar kata yang kaya dan bersejarah, mencerminkan kompleksitas pemikiran manusia dalam menjelajahi makna, eksistensi, dan realitas. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri akar kata "filsafat" dan menggali maknanya yang mendalam.

Asal Usul Kata "Filsafat" 

Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu "philosophia" (φιλοσοφία). Dalam bahasa Yunani, "philos" (φίλος) berarti "cinta" atau "kasih," sedangkan "sophia" (σοφία) berarti "kebijaksanaan." Jadi, secara harfiah, "filsafat" berarti "cinta terhadap kebijaksanaan" atau "cinta terhadap pengetahuan yang mendalam."

Filsafat berasal dari kata Yunani φιλοσοφία (philosophia) yang berarti “cinta akan hikmat". Kata ini pertama kali diungkapkan oleh Pythagoras (c. 570–495SM). Secara etimologi, kata philosophy berasal dari bahasa Inggris yang berarti filsafat atau berasal dari kata Yunani philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya adalah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan).

Filsafat adalah metodologi yang mengkaji pertanyaan-pertanyaan umum dan asasi, misalnya pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi, penalaran, nilai-nilai luhur, akal budi, dan bahasaMetode yang digunakan dalam filsafat antara lain mengajukan pertanyaan, diskusi kritikal, dialektik, dan presentasi sistematik.

Makna Kata Filsafat

Makna kata "filsafat" ini mencerminkan esensi dari disiplin ini. Filsafat bukan hanya tentang akumulasi pengetahuan atau pemahaman sehari-hari. Lebih dari itu, filsafat adalah pencarian konstan terhadap kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai aspek kehidupan. Filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles adalah contoh awal dari orang-orang yang berusaha mencari kebijaksanaan melalui refleksi dan pertanyaan filosofis.

Fungsi Filsafat dalam Sejarah Manusia 

Filsafat memiliki peran yang signifikan dalam sejarah manusia. Filsafat tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi dan makna kehidupan, tetapi juga sebagai alat untuk menggali pemahaman tentang etika, politik, ilmu pengetahuan, agama, dan budaya. Filsafat membantu manusia memahami dunia di sekitar mereka dan merenungkan tujuan hidup mereka.

Filsafat sebagai Disiplin Akademis 

Selain menjadi pencarian individual terhadap kebijaksanaan, filsafat telah berkembang menjadi disiplin akademis yang terstruktur. Universitas-universitas di seluruh dunia menawarkan program studi dalam filsafat, memungkinkan mahasiswa untuk memahami teori-teori filosofis yang telah dikembangkan selama berabad-abad. Filsafat juga membantu membentuk dasar pemikiran dalam banyak bidang lainnya, termasuk ilmu pengetahuan, etika, hukum, dan politik.

Kontribusi Filsafat dalam Pemikiran Modern 

Filsafat tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi juga dalam pemikiran modern. Konsep-konsep filosofis seperti rasionalitas, keadilan, hak asasi manusia, dan etika tetap menjadi bahan diskusi penting dalam masyarakat kontemporer. Filsafat juga membantu manusia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terpecahkan, seperti makna kehidupan, kebebasan, dan alam semesta.

Filsafat dalam Kehidupan Sehari-Hari 

Meskipun filsafat seringkali dianggap sebagai disiplin yang kompleks dan sulit dipahami, konsep-konsep filosofis dapat ditemukan dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kita merenungkan mengapa kita melakukan tindakan tertentu, kita sedang melakukan pemikiran filosofis tentang etika. Ketika kita merenungkan apa arti kehidupan kita, kita sedang melakukan pemikiran filosofis tentang eksistensialisme. Oleh karena itu, filsafat dapat membantu kita memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita secara lebih mendalam.

Kritik terhadap Filsafat 

Sementara filsafat memiliki peran yang penting dalam pemikiran manusia, ada juga kritik terhadap disiplin ini. Beberapa orang menganggapnya sebagai disiplin yang terlalu abstrak dan teoritis, dengan sedikit aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, para pendukung filsafat berpendapat bahwa pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep filosofis dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan hidup dengan lebih sadar.

B.       DAKWAH

Arti kata "dakwah" dalam konteks Al-Quran merujuk pada aktivitas penyebaran ajaran agama Islam dan upaya untuk mengajak orang lain memahami, menerima, dan mengamalkan ajaran Islam. Dakwah adalah salah satu konsep yang sangat penting dalam Islam dan memiliki peran sentral dalam misi para nabi dan rasul dalam menyampaikan pesan Allah kepada umat manusia.

Beberapa ayat Al-Quran yang mencerminkan makna dan pentingnya dakwah dalam Islam antara lain:

  1. Surah Al-Baqarah (2:143): "Demikian Kami menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu."

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjadi saksi atas perbuatan manusia lainnya. Ini mencakup tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran Islam dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

  1. Surah Al-Imran (3:110): "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk (memberikan) manfaat kepada manusia; kamu menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."

Ayat ini menekankan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi positif dalam masyarakat dengan menyebarkan kebaikan (ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (munkar).

  1. Surah Al-Nahl (16:125): "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk."

Ayat ini mengajarkan pentingnya berdakwah dengan cara yang bijaksana dan penuh hikmah, serta menjawab pertanyaan dan keraguan dengan cara yang baik dan santun.

  1. Surah Al-Ankabut (29:46): "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) kecuali dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Dan katakanlah: 'Kami beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa, dan kepada-Nya lah kami berserah diri.'"

Ayat ini menunjukkan pendekatan yang harus diambil dalam berdialog dan berdakwah kepada orang-orang dari agama lain, yaitu dengan cara yang lebih baik dan penuh rasa hormat.

Jadi, dalam konteks Al-Quran, dakwah adalah tugas dan tanggung jawab umat Islam untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara yang baik, bijaksana, dan penuh hikmah, serta untuk berperan aktif dalam mempromosikan kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam masyarakat. Dakwah juga mengacu pada upaya untuk mengajak orang lain kepada keimanan kepada Allah yang Esa.

C.       FILSAFAT DAKWAH

Filsafat dakwah adalah pendekatan atau kerangka berpikir yang digunakan dalam upaya menyebarkan ajaran agama atau pesan keagamaan kepada orang lain. Ini melibatkan pemikiran filosofis dan pemahaman mendalam tentang ajaran agama yang digunakan sebagai dasar untuk berkomunikasi dengan orang lain dan mempengaruhi pemikiran, keyakinan, atau perilaku mereka.

Definisi filsafat dakwah dapat dibagi menjadi beberapa elemen kunci:

  1. Pemahaman Ajaran Agama: Filsafat dakwah memerlukan pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama yang ingin disebarkan. Ini mencakup pemahaman tentang teks suci, tradisi, nilai-nilai, etika, dan prinsip-prinsip agama yang relevan.
  2. Pendekatan Filosofis: Filsafat dakwah melibatkan penerapan prinsip-prinsip filsafat dalam upaya menyebarkan pesan agama. Ini bisa mencakup penggunaan argumen logis, refleksi filosofis, dan pemikiran kritis untuk menjelaskan dan mempertahankan keyakinan agama.
  3. Komunikasi yang Efektif: Filsafat dakwah juga melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan efektif kepada orang lain. Ini mencakup kemampuan untuk berbicara dengan bahasa yang dimengerti audiens target, menggunakan analogi atau contoh yang relevan, dan menjawab pertanyaan atau keraguan dengan bijak.
  4. Penghormatan terhadap Kebebasan Beragama: Filsafat dakwah harus mencerminkan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan keyakinan individu. Ini berarti tidak menggunakan tekanan atau paksaan untuk mengubah keyakinan orang lain, tetapi mengajak dengan cara yang penuh rasa hormat dan non-konfrontatif.
  5. Tujuan Kebaikan Bersama: Tujuan dari filsafat dakwah adalah membawa manfaat dan kebaikan kepada masyarakat dan individu. Ini mencakup upaya untuk mempromosikan nilai-nilai positif, moralitas, dan etika dalam masyarakat.
  6. Konteks Budaya dan Sosial: Filsafat dakwah juga mempertimbangkan konteks budaya dan sosial di mana pesan agama disebarkan. Ini berarti mengadaptasi pendekatan dakwah agar sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat tersebut.
  7. Pengembangan Diri: Individu yang terlibat dalam dakwah sering mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang agama mereka melalui proses dakwah. Ini bisa melibatkan studi lebih lanjut, refleksi, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran agama.

Penting untuk diingat bahwa filsafat dakwah dapat bervariasi tergantung pada konteks, agama, dan tujuan individu atau kelompok yang terlibat dalam dakwah. Namun, dalam setiap pendekatan filsafat dakwah, penting untuk mempertimbangkan prinsip-prinsip etika, penghormatan terhadap kebebasan beragama, dan tujuan kebaikan bersama dalam upaya menyebarkan pesan agama.

Referensi:

  1. Russell, Bertrand. (1945). "A History of Western Philosophy." Simon & Schuster.
  2. Nagel, Thomas. (1987). "What Does It All Mean?: A Very Short Introduction to Philosophy." Oxford University Press.
  3. Solomon, Robert C. (2016). "Introducing Philosophy: A Text with Integrated Readings." Oxford University Press.
  4. Grayling, A.C. (2019). "The History of Philosophy." Penguin Books.
  5. Blackburn, Simon. (2005). "Oxford Dictionary of Philosophy." Oxford University Press.